rintangan rintangan mental yang menghambat pertumbuhan ekonomi indonesia

10 Mei 2010 at 9:03 am (puisi)

PENDAHULUAN

Secara garis besar, di negara-negara berkembang, kegiatan perekonomiannya terkesan jalan di tempat. Padahal di negara-negara tersebut, sering tak kurang akan tanah yang subur, kekayaan alam yang melimpah, tenaga kerja yang banyak dan murah serta masih ditambah dengan banyaknya bantuan modal asing. Namun itu semua ternyata masih belum cukup. Masih ada beberapa syarat lain yang harus dipenuhi.

David Ricardo misalnya, telah sadar akan adanya faktor-faktor susunan masyarakat yang tak mudah dapat diperhitungkan dalam hal menganalisa masalah penduduk dalam proses perkembangan ekonomi. Kemudian J Schumpeter menambahkan dua unsur lagi, yaitu:

a) Suatu ekonomi akan berkembang kalau dalam masyarakat yang bersangkutan ada suatu jumlah yang cukup besar dari tokoh-tokoh yang mempunyai bakat berusaha atau “entrepreneurs”.

b) Suatu ekonomi akan berkembang kalau dalam masyarakat ada iklim sosial-budaya yang cocok untuk memungkinkan para entrepreneurs itu mengambil resiko untuk berusaha.

Faktor susunan masyarakat, faktor kurang adanya bakat untuk usaha-usaha yang bersifat ekonomi dan faktor iklim sosial-budaya yang tidak cocok untuk kemajuan itulah yang menjadi perintang dan penghambat penting kemajuan di Indonesia.

Faktor sosial-budaya yang bersifat non-ekonomis dalam pembangunan ekonomi meliputi:

a) faktor demografis

Dalam analisa dan perencanaan ekonomi misalnya, harus juga diperhitungkan bagaimana kenaikan produksi pangan bisa diamankan agar dapat ditanam sebagai modal baru yang diperlukan untuk net investment bagi pembangunan ekonomi, supaya tidak terkena proses involusi dan akan dikonsumsi habis oleh penduduk yang selalu bertambah tiap tahun.

b) faktor politis

Ketenangan kestabilan politik di suatu negara akan mempengaruhi pembangunan ekonomi di negara tersebut. Dengan suasana iklim politik yang tenang dan stabil, para usahawan akan merasa aman dan berani mengambil resiko menanam modal di dalam negeri, sehingga modal tidak akan lari ke luar negeri terus.

c) faktor susunan masyarakat

Para perencana pembangunan ekonomi di Indonesia harus benar-benar mengetahui golongan-golongan atau lapisan-lapisan manakah yang vital pada satu taraf, dan golongan-golongan atau lapisan-lapisan manakah yang penting pada lain taraf dari proses pembangunan. Sehingga harus dibuat satu seleksi yang seksama, mengenai golongan dan lapisan manakah yang seharusnya mendapat efek yang terdahulu dari rencana mereka.

d) faktor mental

Faktor ini masih kurang mendapat perhatian yang mendalam dari para ahli ekonomi. Padahal faktor ini juga tak kalah pentingnya dalam pembangunan ekonomi.

PEMBAHASAN

MENDEFINISIKAN FAKTOR-FAKTOR MENTAL

1. Sistem Nilai Budaya dan Sikap

Sistem nilai budaya merupakan suatu rangkaian dari konsepsi-konsepsi abstrak yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu masyarakat, mengenai apa yang harus dianggap penting dan berharga, tetapi juga mengenai apa yang dapat dianggap remeh dan tak berharga dalam hidup.

Dengan demikian sistem nilai budaya itu, tidak hanya berfungsi sebagai suatu pedoman tapi juga sebagai pendorong kelakuan manusia dalam hidup, sehingga berfungsi juga sebagai suatu sistem tata kelakuan.

Suatu sikap merupakan kecondongan yang berasal dari dalam diri individu untuk berkelakuan dengan suatu pola tertentu, terhadap suatu obyek berupa manusia, hewan atau benda, akibat pendirian dan perasaannya terhadap obyek tersebut.

Pada akhirnya, baik nilai-nilai budaya maupun sikap bisa mempengaruhi tindakan manusia baik secara langsung maupun melalui pola-pola cara berpikir.

2. Kerangka Untuk Meninjau Sistem Nilai-Budaya

Kerangka untuk meninjau sistem nilai budaya berpangkal pada lima masalah pokok, seperti yang diajukan oleh FR Kluckhohn dan FL Strodtbock dalam bukunya Variations in Value Orientation (1961), yaitu:

a) Masalah mengenai hakekat dan sifat hidup manusia.

b) Masalah mengenai hakekat dari karya manusia.

c) Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dalam ruang waktu.

d) Masalah mengenai hakekat dari kedudukan manusia dengan alam sekitarnya.

e) Masalah mengenai hakekat dari hubungan manusia dengan sesamanya.

1. Ciri-Ciri Mental Manusia Indonesia Asli

a) Rakyat Petani dan Mentalitetnya

Watak petani yang hidup di pedesaan menurut para ahli dari abad ke-19, dijiwai oleh maksud serba rela dalam pergaulan. Sedangkan menurut Boeke, petani itu tidak suka bekerja, bersifat statis, tak mempunyai inisiatif, dan hanya suka membebek saja kepada orang-orang tinggi dari kota.

Berdasarkan kerangka Kluckhohn, dapat dirumuskan sistem nilai-budaya petani Indonesia sebagai berikut: Petani di Indonesia, terutama di Jawa pada dasarnya menganggap hidupnya itu sebagai suatu hal yang buruk, penuh dosa dan kesengsaraan. Kebanyakan dari mereka juga bekerja untuk hidup, kadang juga untuk mencapai kedudukan. Ia hanya mempunyai perhatian untuk hari sekarang ini. Hari esok tak pernah ia pedulikan.

b) Hakekat Hidup

Mentalitet yang beranggapan bahwa hidup pada hakekatnya buruk, tapi untuk di ikhtiarkan menjadi suatu hal yang baik dan menyenangkan, adalah suatu hal yang cocok untuk pembangunan: karena ikhtiar dan usaha itu merupakan sendi-sendi penting dari segala aktivitas berproduksi dan membangun.

c) Hakekat Karya

Suatu mentalitet yang lebih cocok untuk pembangunan sebenarnya harus mengandung pandangan yang menilai tinggi karya untuk mencapai suatu kedudukan yang dapat menghasilkan lebih banyak karya lagi.

d) Hakekat Kedudukan Manusia dalam Ruang Waktu

Perencananaan yang matang akan membuat pembangunan berjalan dengan baik, sehinggga mental yang hanya berorientasi terhadap hari ini dan tidak memperhitungkan masa depan tidak cocok untuk pembangunan ekonomi.

e) Hakekat Hubungan Manusia dengan Alam

Mental yang paling cocok untuk pembangunan ekonomi adalah mental yang berusaha menguasai alam, karena untuk menguasai alam kita membutuhkan teknologi, dan teknologi itu akan mendukung pula kemajuan.

f) Hakekat Manusia dengan Sesamanya

Petani biasanya identik dengan gotong royong. Mental gotong royong tidak cocok dengan pembangunan ekonomi, karena dalam pembangunan ekonomi persaingan antar individu untuk meraih prestasi dan kemajuan mutlak diperlukan.

KESIMPULAN

Pada dasarnya rintangan yang menghambat kemajuan pembanginan ekomoni Indonesia adalah masih banyaknya tertanam pola pikir seperti pola pikir petani di pedesaan yang menganggap bahwa hidup ini hal yang buruk dan kurang mandiri karena terlalu bergantung pada sesama dalam setiap urusan kehidupan.

Selain itu juga adanya lima masalah pokok dalam kehidupan manusia yakni:

  1. Masalah mengenai hakikat dan sifat hidup manusia,
  2. Masalah mengenai hakikat dari karya manusia,
  3. Masalah mengenai hakikat dari kedudukan manusia dalam ruang  waktu,
  4. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan alam sekitarnya, dan
  5. Masalah mengenai hakikat dari hubungan manusia dengan sesama.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: